Skip to Content
Loading...
Admin
Admin
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

Cerita Lutung yang Lupa Berterima Kasih

Cerita Lutung yang Lupa Berterima Kasih

Pagi itu, matahari bersinar redup di balik awan. Angin laut berembus pelan, membawa aroma asin ke sepanjang pantai. Ombak kecil bergulung dan pecah di atas pasir dengan suara, “Syurrr… syurrr….”

Di tengah pantai yang sepi, seekor lutung berjalan terseok-seok. Bulunya yang hitam dipenuhi pasir, sedangkan kedua kakinya gemetar karena kelelahan.

Namanya Lumo.

Sebelumnya, Lumo terjatuh dari pohon yang sangat tinggi. Sejak saat itu, tubuhnya terasa lemah. Perutnya juga kosong karena sudah seharian ia tidak menemukan makanan.

“Aku harus kembali ke hutan,” gumam Lumo sambil memandang pepohonan hijau di seberang muara. “Tetapi bagaimana caranya? Aku tidak pandai berenang.”

Lumo mencoba melangkah lagi, tetapi kakinya hampir tidak sanggup menopang tubuhnya. Ia pun duduk di atas pasir sambil menundukkan kepala.

Tak lama kemudian, terdengar suara kepakan sayap.

“Kepak… kepak… kepak….”

Seekor ayam hutan berbulu kuning keemasan mendarat tidak jauh darinya. Namanya Rani. Ia sedang mencari udang kecil di tepi muara.

Rani terkejut melihat keadaan Lumo.

“Lumo, mengapa wajahmu pucat sekali?” tanyanya dengan lembut. “Apakah kamu sakit?”

Lumo mengangkat kepalanya. Matanya tampak sayu.

“Aku terjatuh dari pohon. Aku ingin kembali ke hutan, tetapi tubuhku terlalu lemah untuk menyeberangi muara.”

Rani merasa kasihan.

“Naiklah. Pegang kakiku erat-erat. Aku akan membawamu ke seberang.”

Mata Lumo berbinar.

“Benarkah? Terima kasih, Rani!”

Rani mengepakkan sayapnya sekuat tenaga. Tubuh Lumo cukup berat, tetapi Rani tidak mengeluh. Angin bertiup kencang dan air muara bergelombang di bawah mereka.

“Pegangan yang kuat!” seru Rani.

Lumo memejamkan mata. Setelah terbang cukup lama, akhirnya mereka tiba di dalam hutan.

Rani mendarat dengan tubuh gemetar. Napasnya tersengal-sengal karena kelelahan.

“Kita sudah sampai,” katanya sambil tersenyum. “Sekarang kamu aman.”

Namun, bukannya berterima kasih, Lumo justru melihat bulu-bulu keemasan Rani dengan penuh keinginan.

“Bulu-bulumu indah sekali,” katanya.

Rani tersenyum kecil. “Terima kasih.”

Tiba-tiba Lumo menarik salah satu bulu Rani.

“Aduh!” jerit Rani. “Apa yang kamu lakukan?”

“Aku hanya ingin memiliki beberapa bulumu,” jawab Lumo.

“Jangan, Lumo! Itu menyakitkan!”

Namun, Lumo tidak mendengarkan. Ia mencabut beberapa bulu Rani hingga ayam hutan itu jatuh lemas dan pingsan.

Lumo meninggalkannya di balik semak-semak.

“Aku harus mencari makanan,” katanya tanpa rasa bersalah.

Beberapa saat kemudian, Rani membuka matanya. Tubuhnya terasa sakit. Ia menangis pelan sambil memandangi bulu-bulunya yang berserakan di tanah.

Seekor sapi bernama Bima kebetulan lewat.

“Rani, apa yang terjadi?” tanyanya cemas.

Dengan suara bergetar, Rani menceritakan semuanya.

Bima menghela napas panjang. Ia merasa sedih sekaligus marah.

“Kamu sudah menolongnya dengan tulus, tetapi dia membalas kebaikanmu dengan perbuatan buruk.”

Bima kemudian membantu Rani bersembunyi di tempat yang aman.

Tidak lama kemudian, Lumo kembali.

“Bima, apakah kamu melihat ayam hutan berbulu emas?”

Bima menatapnya tajam.

“Aku melihatnya pergi ke batu karang di tengah laut.”

“Antarkan aku ke sana!” pinta Lumo.

Bima pun membawa Lumo menyeberangi laut. Setelah Lumo turun di atas batu karang, Bima segera kembali ke pantai.

“Tunggu!” teriak Lumo. “Jangan tinggalkan aku!”

Bima menoleh dari kejauhan.

“Kamu harus belajar bahwa kebaikan tidak boleh dibalas dengan kejahatan.”

Lumo terdiam. Angin laut bertiup semakin kencang. Ombak menghantam batu karang hingga pakaiannya basah.

Untuk pertama kalinya, Lumo merasa takut.

Tak lama kemudian, seekor penyu bernama Tara muncul dari permukaan air.

“Mengapa kamu berada di sini sendirian?” tanyanya.

Lumo tidak berani mengatakan yang sebenarnya.

“Aku terjatuh dari sebuah perahu,” katanya berbohong. “Tolong antarkan aku ke pantai.”

Tara merasa kasihan. Ia membiarkan Lumo naik ke atas tempurungnya.

Sesampainya di pantai, Lumo kembali melupakan pertolongan yang diterimanya. Ia membalikkan tubuh Tara hingga penyu itu tidak dapat bergerak.

“Tolong kembalikan tubuhku!” pinta Tara.

Namun, Lumo justru pergi sambil tertawa.

Tara menangis dan berteriak meminta pertolongan. Beberapa ekor tikus mendengar suaranya. Mereka segera datang dan menggali pasir di bawah tubuh Tara.

“Ayo, bersama-sama!” seru pemimpin tikus.

Dengan kerja keras, mereka berhasil membantu Tara membalikkan tubuhnya.

Tak lama kemudian, Lumo kembali bersama seekor harimau. Lumo berniat menakut-nakuti Tara, tetapi penyu itu telah berhasil melarikan diri.

Harimau segera mengetahui bahwa Lumo telah membohonginya.

“Jadi, kamu membawa aku kemari hanya untuk menakut-nakuti seekor penyu yang pernah menolongmu?” tanya Harimau.

Lumo mundur perlahan. Tubuhnya gemetar.

“Aku… aku hanya bercanda.”

Harimau menatapnya dengan tegas.

“Perbuatanmu bukanlah lelucon. Rani menolongmu menyeberangi muara, tetapi kamu menyakitinya. Tara mengantarmu ke pantai, tetapi kamu meninggalkannya dalam kesulitan. Bahkan sekarang kamu kembali membawa bahaya bagi sahabat yang pernah menolongmu.”

Lumo menundukkan kepala.

Bayangan Rani yang terbang dengan susah payah melintasi muara kembali muncul dalam pikirannya. Ia juga teringat suara Tara ketika memohon pertolongan.

Dadanya terasa sesak.

“Apa yang telah kulakukan?” bisiknya.

Air mata mulai mengalir di pipinya.

Harimau tidak menerkam Lumo. Ia hanya berkata, “Kembalilah dan perbaikilah kesalahanmu. Namun ingat, meminta maaf tidak cukup hanya dengan kata-kata. Kamu harus membuktikannya melalui perbuatan.”

Lumo segera mencari Rani. Ia menemukan ayam hutan itu sedang beristirahat bersama Bima.

Lumo berlutut di hadapan Rani.

“Rani, maafkan aku. Kamu telah menyelamatkanku, tetapi aku malah menyakitimu. Aku sangat menyesal.”

Rani masih merasa takut. Ia tidak langsung menjawab.

Lumo lalu mengumpulkan daun-daun lembut untuk membuat tempat istirahat bagi Rani. Setiap hari ia mencari buah dan biji-bijian untuknya. Ia juga menjaga Rani sampai bulu-bulunya tumbuh kembali.

Setelah itu, Lumo menemui Tara.

“Aku juga meminta maaf kepadamu,” katanya. “Aku telah membalas pertolonganmu dengan perbuatan yang buruk.”

Sejak hari itu, Lumo berubah. Ia mulai menolong hewan-hewan yang kesulitan menyeberangi sungai. Ia membagikan makanan kepada hewan yang kelaparan dan tidak pernah lagi mengambil sesuatu yang bukan miliknya.

Kepercayaan memang tidak kembali dalam satu malam. Namun, sedikit demi sedikit, penghuni hutan mulai melihat ketulusan Lumo.

Suatu sore, Rani menghampirinya.

“Lumo,” katanya, “aku belum melupakan perbuatanmu. Tetapi aku melihat kamu sungguh-sungguh berusaha berubah.”

Lumo menunduk.

“Terima kasih karena telah memberiku kesempatan.”

Di bawah cahaya matahari senja, mereka duduk bersama memandang muara. Airnya berkilau seperti hamparan emas.

Lumo akhirnya memahami bahwa pertolongan adalah hadiah yang sangat berharga. Kebaikan bukan untuk dimanfaatkan, melainkan untuk dijaga dan dibalas dengan kebaikan pula.

Pesan moral:
Jangan membalas kebaikan dengan keburukan. Ucapkan terima kasih, hargai orang yang telah menolong, dan beranilah memperbaiki kesalahan dengan perbuatan nyata.

Berbagi

Postingan Terkait

Posting Komentar

Konfirmasi Penutupan

Apakah anda yakin ingin menutup pemutaran video ini?