Skip to Content
Loading...
Admin
Admin
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

Cerita Buaya dan Burung Penyanyi

Cerita Buaya dan Burung Penyanyi

Di sebuah sungai yang jernih, hiduplah seekor buaya bernama Bara. Tubuhnya besar, sisiknya keras, dan giginya tajam. Namun, di balik penampilannya yang menakutkan, Bara memiliki hati yang lembut.

Bara mempunyai seorang sahabat bernama Kicau, seekor burung kecil berbulu kuning keemasan. Suara Kicau begitu merdu. Setiap kali ia bernyanyi, dedaunan seolah berhenti bergoyang untuk mendengarkan. Ikan-ikan kecil muncul ke permukaan, sedangkan kupu-kupu beterbangan mengelilinginya.

Hampir setiap sore, Kicau datang menemui Bara.

Ia akan bertengger di ujung hidung sahabatnya sambil menceritakan kejadian-kejadian yang dilihatnya dari atas langit.

“Bara, tadi aku melihat pelangi di balik bukit!” seru Kicau.

“Benarkah? Seperti apa warnanya?” tanya Bara dengan mata berbinar.

“Merah seperti bunga sepatu, kuning seperti sinar matahari, dan biru seperti sungai ini.”

Bara tersenyum. Ia senang mendengar cerita Kicau karena dirinya tidak bisa terbang dan melihat dunia dari tempat yang tinggi.

Sebaliknya, Kicau juga menyukai Bara. Di punggung Bara yang lebar, ia bisa beristirahat setelah terbang jauh. Bara pun selalu melindunginya dari ular dan elang yang berbahaya.

Meskipun sangat berbeda, keduanya saling melengkapi.

Sebuah Kejadian yang Tidak Disengaja

Pada suatu siang yang teduh, Bara berbaring di tepi sungai. Angin bertiup perlahan, membawa aroma bunga-bunga hutan. Kicau bertengger di atas hidungnya sambil menyanyikan sebuah lagu.

“Cuit… cuit…
Sungai mengalir menuju lautan,
Sahabat sejati saling menguatkan…”

Suara Kicau begitu menenangkan. Lama-kelamaan, mata Bara mulai terasa berat.

“Nyanyianmu indah sekali…” gumam Bara sambil menguap.

“Aku akan menyanyikan satu lagu lagi,” jawab Kicau.

Namun, tanpa memberi peringatan, Bara tiba-tiba membuka mulutnya lebar-lebar.

“Huaaah!”

Hidung Bara bergerak sehingga Kicau kehilangan keseimbangan.

“Aaa… Bara!”

Kicau tergelincir dan jatuh tepat ke dalam mulut Bara.

Hap!

Mulut besar itu tertutup kembali.

Untunglah Bara tidak menelannya. Kicau terjebak di dalam rongga mulut yang gelap dan lembap.

“Bara! Buka mulutmu!” teriak Kicau.

Namun, suaranya terdengar sangat kecil. Bara tidak menyadari bahwa sahabatnya berada di dalam mulutnya.

Bara membuka mata dan memandang ke ujung hidungnya.

“Kicau?”

Tidak ada siapa-siapa.

Bara menoleh ke kanan dan ke kiri.

“Kicau, di mana kamu?”

Ia mencari di balik semak-semak, di bawah daun teratai, bahkan di antara akar pohon besar.

“Kicau! Jangan bersembunyi! Aku mulai khawatir!”

Tidak ada jawaban.

Bara kembali ke tepi sungai dengan perasaan sedih. Ia menundukkan kepala dan memejamkan mata.

“Aku baru saja bersamanya. Mengapa sekarang ia menghilang?”

Nyanyian dari Dalam Tubuh

Di dalam mulut Bara, Kicau mulai merasa kesal.

“Bara benar-benar ceroboh! Ia bahkan tidak menyadari bahwa aku ada di sini.”

Kicau lalu menarik napas panjang dan bernyanyi sekeras mungkin.

“Cuit… cuit… bukalah mulutmu!”

Bara terkejut.

Ia mendengar suara merdu yang seolah-olah berasal dari dalam tubuhnya.

“Suara apa itu?” gumam Bara.

Kicau kembali bernyanyi.

“Bukalah mulutmu, wahai sahabatku…”

Mata Bara membesar karena takjub.

“Apakah… apakah aku bisa bernyanyi?”

Bara sangat gembira. Selama ini ia selalu ingin memiliki suara seindah Kicau. Namun, setiap kali mencoba bernyanyi, yang keluar hanyalah suara berat dan parau.

Dengan penuh percaya diri, Bara mengangkat kepalanya.

“Akhirnya aku memiliki suara yang merdu!”

Ia berjalan menyusuri sungai sambil menikmati nyanyian yang terdengar dari dalam dirinya. Ia bahkan melambaikan ekornya mengikuti irama.

Setelah beberapa saat, Bara kembali mengantuk. Ia membuka mulutnya untuk menguap.

“Huaaah!”

Begitu mulut Bara terbuka, Kicau segera mengepakkan sayapnya dan terbang keluar.

Ia mendarat di atas batu sambil terengah-engah. Bulunya berantakan dan wajahnya tampak kesal.

Bara terkejut melihatnya.

“Kicau! Dari mana saja kamu? Aku mencarimu ke mana-mana!”

Kicau berkacak pinggang dengan kedua sayapnya.

“Aku berada di dalam mulutmu!”

“Di dalam… mulutku?”

“Ya! Tadi kamu menguap tanpa memberi tahu. Aku terpeleset dan jatuh ke dalamnya!”

Bara terdiam. Wajahnya tampak malu.

“Jadi, suara merdu yang kudengar tadi…”

“Itu suaraku,” jawab Kicau.

Saking kesalnya, Kicau melanjutkan perkataannya tanpa berpikir panjang.

“Tentu saja bukan suaramu! Suaramu berat dan sumbang. Kamu tidak bisa bernyanyi seperti aku!”

Ucapan itu membuat senyum Bara perlahan menghilang.

Kepalanya tertunduk. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku tahu suaraku tidak indah,” katanya pelan. “Tetapi tadi aku merasa sangat bahagia. Untuk sesaat, aku mengira aku mempunyai sesuatu yang istimewa seperti dirimu.”

Setetes air mata jatuh dari mata Bara dan membentuk lingkaran kecil di permukaan sungai.

Kicau yang semula marah langsung terdiam.

Ia menyesali perkataannya.

Bara memang telah melakukan kesalahan. Namun, ia tidak sengaja menjatuhkan Kicau ke dalam mulutnya. Kicau sadar bahwa dirinya juga telah berbuat salah karena mengejek kekurangan sahabatnya.

Musik Sungai

Kicau terbang mendekati Bara dan hinggap di atas kepalanya.

“Maafkan aku, Bara,” ucapnya lembut. “Aku sedang kesal sehingga mengatakan sesuatu yang menyakiti hatimu.”

Bara tidak menjawab.

Kicau berpikir sejenak. Kemudian, ia melihat gelembung-gelembung kecil muncul di dekat rerumputan air.

Tiba-tiba ia mendapat sebuah gagasan.

“Bara, mungkin suaramu tidak sama seperti suaraku. Tetapi bukan berarti kamu tidak memiliki keistimewaan.”

Bara mengangkat kepalanya.

“Apa maksudmu?”

“Masukkan ujung moncongmu ke dalam air, lalu embuskan udara perlahan.”

Bara mengikuti petunjuk Kicau.

“Blup… blup… blup…”

Gelembung-gelembung air muncul ke permukaan. Suaranya terdengar bulat dan berirama.

Kicau lalu bernyanyi mengikuti irama gelembung tersebut.

“Cuit… cuit… blup… blup…
Sungai bernyanyi bersama kita…”

Suara nyanyian Kicau berpadu dengan bunyi gelembung yang dibuat Bara. Hasilnya sangat indah dan unik.

Ikan-ikan kecil berenang mendekat. Katak-katak ikut bersahutan dari atas daun teratai. Bahkan angin seolah berembus mengikuti irama lagu.

Bara mengangkat moncongnya dari dalam air.

“Apakah suara itu benar-benar berasal dariku?”

“Tentu saja!” jawab Kicau. “Aku tidak bisa menghasilkan gelembung seperti itu. Musik ini menjadi indah karena kita melakukannya bersama.”

Wajah Bara kembali cerah.

Ia pun membuat lebih banyak gelembung.

“Blup… blup… blup…”

Kicau mengepakkan sayapnya sambil bernyanyi riang.

Sore itu, seluruh penghuni sungai berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan mereka. Semuanya bertepuk tangan dan bersorak gembira.

Sejak hari itu, Bara tidak lagi merasa sedih karena tidak bisa bernyanyi seperti Kicau. Ia memahami bahwa setiap makhluk memiliki kelebihan yang berbeda.

Kicau pun belajar menjaga perkataannya. Ia tahu bahwa kata-kata yang diucapkan saat marah dapat melukai hati orang yang disayangi.

Bara juga selalu memberi peringatan sebelum membuka mulut.

“Kicau, aku akan menguap!”

“Baiklah, aku terbang dulu!”

Keduanya lalu tertawa bersama.

Menjelang matahari terbenam, suara nyanyian dan gelembung air kembali terdengar di sepanjang sungai.

“Cuit… cuit… blup… blup…
Walau berbeda, kita tetap satu.
Kelebihanmu melengkapi kekuranganku,
Bersama sahabat, dunia terasa lebih indah.”

Pesan Moral

Setiap anak mempunyai kemampuan yang berbeda. Kita tidak perlu merasa rendah diri karena tidak mampu melakukan sesuatu seperti orang lain. Jangan pula mengejek kekurangan teman, sebab perkataan yang kasar dapat melukai hati. Persahabatan akan menjadi indah apabila kita saling menghargai, meminta maaf, dan menggunakan kelebihan untuk saling melengkapi.

Berbagi

Postingan Terkait

Posting Komentar

Konfirmasi Penutupan

Apakah anda yakin ingin menutup pemutaran video ini?