Skip to Content
Loading...
Admin
Admin
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

Cerita Bende Wasiat dan Kesombongan Sang Harimau

Cerita Bende Wasiat dan Kesombongan Sang Harimau

Di tengah hutan yang hijau dan lebat, hiduplah seekor harimau bernama Raga. Tubuhnya besar, kukunya tajam, dan bulu lorengnya tampak berkilau ketika terkena cahaya matahari.

Setiap pagi, Raga selalu mendatangi sungai yang airnya jernih. Namun, ia datang bukan untuk minum. Ia datang untuk memandangi bayangannya sendiri.

Raga berdiri di atas batu, membusungkan dada, lalu menatap wajahnya di permukaan air.

“Lihatlah tubuhku yang kuat,” katanya dengan bangga. “Tidak ada binatang di hutan ini yang lebih gagah dariku.”

Angin pagi menggerakkan dedaunan. Burung-burung berkicau di atas pohon. Akan tetapi, binatang-binatang kecil yang berada di sekitar sungai justru segera bersembunyi.

Mereka takut kepada Raga.

Raga sering memerintah binatang lain sesuka hatinya. Jika jalan yang dilaluinya terhalang, ia menyuruh kelinci membersihkannya. Jika ingin buah dari pohon, ia memaksa monyet memetikkan buah untuknya. Bahkan ketika sedang merasa bosan, ia sengaja mengaum keras hanya untuk melihat binatang-binatang kecil berlarian ketakutan.

“Cepatlah menyingkir!” bentaknya suatu hari kepada seekor kelinci bernama Lili. “Jangan menghalangi jalan Raja Hutan!”

Lili segera menepi. Tubuhnya gemetar, sementara telinganya menunduk karena takut.

Raga melewatinya sambil tertawa.

“Hahaha! Lihatlah, baru mendengar suaraku saja semua binatang sudah ketakutan!”

Dari balik semak, seekor kancil bernama Kiko menyaksikan kejadian itu. Kiko merasa sedih melihat Lili diperlakukan semena-mena.

Setelah Raga pergi, Kiko menghampiri Lili.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya lembut.

Lili menggeleng, tetapi matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku hanya lelah, Kiko,” jawabnya. “Setiap hari Raga menyuruh dan menakut-nakuti kami. Karena tubuhnya besar, ia merasa boleh melakukan apa saja.”

Kiko menatap jalan yang baru saja dilalui Raga.

“Kekuatan seharusnya dipakai untuk melindungi, bukan menindas,” gumamnya.

Malam itu, Kiko duduk di bawah pohon besar sambil berpikir. Bulan bersinar di antara ranting-ranting, sedangkan suara jangkrik terdengar bersahutan.

“Aku harus menemukan cara agar Raga menyadari kesalahannya,” pikir Kiko. “Namun, aku tidak mungkin melawannya dengan kekuatan.”

Tiba-tiba terdengar suara mendengung dari atas pohon.

“Nguuung… nguuung…”

Kiko mendongak. Di salah satu dahan tergantung sebuah sarang lebah yang besar dan bulat. Permukaannya berwarna kecokelatan dan tampak seperti sebuah gong kecil.

Mata Kiko berbinar.

“Aku tahu caranya!”

Keesokan paginya, Kiko menemui Lili.

“Lili, aku sudah mempunyai rencana,” bisiknya.

Lili mendekat dengan penasaran.

“Katakan kepada Raga bahwa aku sedang menjalankan tugas penting. Katakan juga bahwa aku tidak boleh diganggu oleh siapa pun, bahkan olehnya.”

Wajah Lili langsung pucat.

“Bahkan oleh Raga? Kiko, ia pasti marah besar!”

“Memang itu yang kuharapkan,” jawab Kiko. “Namun, jangan khawatir. Aku tidak bermaksud mencelakainya. Aku hanya ingin memberinya pelajaran agar tidak selalu bertindak sesuka hati.”

Meski masih merasa takut, Lili akhirnya mengangguk.

Tak lama kemudian, ia menemukan Raga sedang bermalas-malasan di bawah pohon. Sang Harimau menguap panjang sambil mengibaskan ekornya.

“Raga,” panggil Lili dengan suara pelan.

Raga membuka sebelah matanya.

“Ada apa?”

“Tadi aku bertemu Kiko. Ia berkata sedang menjalankan tugas yang sangat penting. Ia juga berkata tidak boleh ada yang mengganggunya, bahkan… bahkan dirimu.”

Raga langsung berdiri.

“Apa?”

Aumannya membuat burung-burung berhamburan dari atas pohon.

“Berani sekali Kiko berkata seperti itu! Di mana dia sekarang?”

Lili menunjuk ke arah pohon besar di ujung jalan.

“Dia berada di sana. Tetapi aku tidak tahu tugas apa yang sedang dijalankannya.”

Tanpa menunggu lebih lama, Raga berlari menuju pohon besar. Ranting-ranting kecil patah terinjak kakinya. Tanah bergetar setiap kali ia melangkah.

Di bawah pohon, Kiko berdiri sambil menatap benda besar yang tergantung di salah satu dahan.

“Hai, Kiko!” bentak Raga. “Aku mendengar kau melarangku mengganggumu!”

Kiko segera meletakkan telunjuk di depan mulutnya.

“Ssst! Jangan bersuara terlalu keras.”

Raga mengerutkan dahinya.

“Mengapa?”

“Aku sedang menjaga sebuah benda pusaka yang sangat berharga,” jawab Kiko dengan sungguh-sungguh.

Raga menatap benda bulat di atas pohon.

“Benda apa itu?”

“Itu adalah Bende Wasiat,” jawab Kiko. “Konon, suaranya sangat indah. Siapa pun yang mendengarnya akan merasa tenang dan bahagia.”

Raga semakin penasaran.

“Kalau begitu, aku ingin memukulnya.”

Kiko pura-pura terkejut.

“Jangan!”

“Kenapa tidak?”

“Bende itu tidak boleh dipukul sembarangan. Aku diperintahkan menjaganya sampai matahari berada tepat di atas kepala.”

Raga mendongak. Matahari masih belum terlalu tinggi.

“Aku tidak mau menunggu selama itu,” katanya. “Aku adalah binatang terkuat di hutan. Tidak ada yang boleh melarangku.”

Kiko menghela napas.

“Baiklah. Namun, aku harus pergi terlebih dahulu. Apa pun yang terjadi setelah kau memukulnya bukanlah tanggung jawabku.”

Raga tersenyum puas.

“Pergilah! Aku tidak membutuhkan bantuanmu.”

Kiko berlari menjauh lalu bersembunyi di balik semak bersama Lili. Dari sana, keduanya masih dapat melihat Raga.

Sang Harimau memanjat pohon dengan penuh semangat. Ketika sudah cukup dekat, ia mengangkat salah satu cakarnya.

“Akhirnya seluruh hutan akan mendengar suara indah yang dimainkan oleh Raga yang perkasa!”

Dengan sekuat tenaga, ia memukul benda itu.

Buk!

Sesaat, hutan menjadi sunyi.

Raga menunggu suara merdu yang dijanjikan Kiko. Namun, suara yang muncul justru dengungan panjang.

“Nguuung… nguuung… nguuung!”

Ribuan lebah keluar dari sarangnya.

Raga membelalakkan mata.

“Lebah?”

Sekawanan lebah yang marah segera mengerumuninya.

“Aw! Aduh! Tolong!”

Lebah-lebah menyengat hidung, telinga, punggung, dan ekornya. Raga melompat turun dari pohon, lalu berlari terbirit-birit menembus semak-semak.

“Ampun! Aku tidak akan memukulnya lagi!”

Ia terus berlari sampai menemukan sungai.

Byuuur!

Raga melompat ke dalam air. Hanya hidung dan matanya yang terlihat di atas permukaan. Lebah-lebah itu berputar-putar sebentar, lalu kembali ke sarangnya.

Beberapa saat kemudian, Raga keluar dari sungai. Bulunya basah kuyup dan tubuhnya dipenuhi benjolan. Wajahnya tidak lagi tampak gagah seperti biasanya.

Dari balik semak, Kiko dan Lili mendekat. Mereka tidak tertawa. Kiko justru menatap Raga dengan tenang.

“Apakah kau sudah mendengar suara Bende Wasiat?” tanya Kiko.

Raga menundukkan kepala.

“Tidak ada suara merdu. Benda itu ternyata sarang lebah.”

“Benar,” jawab Kiko. “Namun, ada sebuah pesan yang dapat kau dengar dari kejadian ini.”

Raga mengangkat wajahnya.

“Pesan apa?”

“Bahwa memiliki tubuh kuat tidak berarti kau boleh bertindak sesuka hati. Binatang kecil memang tidak sekuat dirimu, tetapi mereka juga mempunyai perasaan. Jika kau terus merendahkan dan menyakiti binatang lain, suatu hari kesombonganmu sendiri akan membuatmu celaka.”

Raga terdiam.

Ia teringat bagaimana Lili selalu gemetar di hadapannya. Ia juga teringat binatang-binatang yang bersembunyi setiap kali mendengar aumannya. Selama ini, ia mengira semua binatang menghormatinya. Baru sekarang ia sadar bahwa sebenarnya mereka hanya merasa takut.

“Aku telah bersikap buruk,” katanya lirih. “Aku merasa paling hebat hanya karena tubuhku lebih besar.”

Raga menatap Lili.

“Maafkan aku karena sering membentak dan menyuruhmu.”

Lili tersenyum kecil.

“Aku memaafkanmu. Namun, berjanjilah bahwa kau tidak akan mengulanginya.”

Raga mengangguk.

“Aku berjanji.”

Sejak hari itu, Raga mulai berubah. Ia tidak lagi mengaum untuk menakut-nakuti binatang kecil. Ketika ada pohon tumbang menghalangi jalan, ia membantu menyingkirkannya. Ketika hujan deras merusak rumah kelinci, ia mengangkat batang-batang kayu untuk membangunnya kembali.

Perlahan-lahan, binatang-binatang hutan tidak lagi bersembunyi saat melihatnya.

Suatu pagi, Raga kembali berdiri di tepi sungai. Ia memandangi bayangannya di permukaan air. Lorengnya masih indah dan tubuhnya tetap kuat, tetapi kali ini ia tidak membusungkan dada.

“Kekuatan bukanlah alasan untuk menyombongkan diri,” katanya. “Kekuatan adalah kesempatan untuk membantu yang membutuhkan.”

Dari atas ranting, burung-burung berkicau dengan riang. Lili dan Kiko berjalan menghampirinya tanpa rasa takut.

Untuk pertama kalinya, Raga tersenyum bukan karena merasa paling hebat, melainkan karena akhirnya ia mempunyai sahabat.

Pesan Moral

Kekuatan dan kelebihan tidak boleh membuat seseorang menjadi sombong. Orang yang benar-benar kuat adalah orang yang mampu menghargai, melindungi, dan menolong sesama. Kesombongan hanya akan membawa kesulitan, sedangkan kerendahan hati akan mendatangkan persahabatan.

Berbagi

Postingan Terkait

Posting Komentar

Konfirmasi Penutupan

Apakah anda yakin ingin menutup pemutaran video ini?