Biografi Dokter Sutomo: Riwayat, Perjuangan, dan Warisan Dr. Soetomo dalam Kebangkitan Nasional
sdn4cirahab.sch.id - Biografi Dokter Sutomo menempati posisi sangat penting dalam sejarah Indonesia karena sosok ini tidak hanya dikenal sebagai tokoh medis, tetapi juga sebagai penggerak kesadaran kebangsaan pada masa kolonial. Dalam ejaan sejarah, namanya lebih sering ditulis sebagai dr. Soetomo, sementara dalam penulisan modern banyak orang mengenalnya sebagai Dokter Sutomo. Ia lahir dengan nama Soebroto di Ngepeh, Nganjuk, Jawa Timur, pada 30 Juli 1888, lalu tumbuh menjadi figur yang perannya melekat pada berdirinya Boedi Oetomo, organisasi yang secara luas dipandang sebagai tonggak penting kebangkitan nasional Indonesia.
![]() |
| Biografi Dokter Sutomo |
Dalam perjalanan hidupnya, Dokter Sutomo memperlihatkan perpaduan langka antara kecerdasan intelektual, kepekaan sosial, dan kepemimpinan organisatoris. Dari bangku STOVIA, dari ruang-ruang diskusi kaum terpelajar, dari dunia kedokteran, hingga ke arena organisasi politik seperti Persatuan Bangsa Indonesia dan Parindra, langkah-langkahnya memperlihatkan arah yang konsisten: membangun persatuan, menaikkan martabat bumiputra, dan menyiapkan masyarakat Indonesia agar layak berdiri sebagai bangsa yang berdaulat. Karena itu, ketika kami membahas biografi Dokter Sutomo, yang kami paparkan bukan hanya urutan hidup seorang tokoh, melainkan riwayat terbentuknya salah satu fondasi awal nasionalisme Indonesia.
Riwayat Singkat Dokter Sutomo
Dokter Sutomo lahir sebagai anak sulung dari tujuh bersaudara. Nama kecilnya adalah Soebroto, dan sejak awal hidupnya ia berasal dari lingkungan Jawa yang mengenal disiplin, tata nilai, dan kehormatan keluarga. Latar ini penting karena kelak memengaruhi cara berpikirnya yang menempatkan persatuan, tata sosial, dan pengabdian sebagai unsur penting dalam kehidupan bersama. Dalam sumber terbitan Museum Kebangkitan Nasional, Soetomo digambarkan sebagai tokoh yang menjunjung tinggi azas persatuan dan memandang keutuhan bangsa sebagai syarat utama kemajuan.
Riwayat hidupnya kemudian bergerak dari desa menuju dunia pendidikan modern kolonial. Perjalanan itu tidak sederhana. Ia harus menempuh pendidikan yang ketat, hidup jauh dari keluarga, dan beradaptasi dengan sistem sekolah yang keras. Namun justru dari pengalaman itulah terbentuk watak kepemimpinannya. Dalam sejarah pergerakan nasional, Soetomo tampil bukan sebagai tokoh yang lahir dari kenyamanan, melainkan sebagai figur yang ditempa oleh disiplin belajar, benturan sosial, dan pengalaman melihat langsung ketimpangan kolonial.
Masa Kecil dan Pembentukan Karakter Dokter Sutomo
Masa kecil Dokter Sutomo menjadi bagian penting dalam memahami arah perjuangannya. Ia lahir di desa Ngepeh, Nganjuk, dan tumbuh dalam keluarga priyayi Jawa. Sumber dari Museum Kebangkitan Nasional mencatat bahwa ia adalah putra pertama dari tujuh bersaudara. Posisi sebagai anak sulung dalam keluarga besar sering kali membentuk rasa tanggung jawab sejak dini, dan dalam kehidupan Soetomo corak itu tampak jelas kemudian hari: ia cenderung mengambil peran memimpin, memikul tanggung jawab moral, dan memikirkan nasib masyarakat lebih luas daripada sekadar dirinya sendiri.
Pembentukan karakter ini juga terlihat dari cara ia menanggapi kesulitan. Saat memasuki dunia pendidikan modern, Soetomo tidak selalu berjalan mulus. Pada fase awal di sekolah lanjutan, ia mengalami pergulatan penyesuaian dan pernah menunjukkan sikap yang belum stabil. Namun masa itu justru menjadi fase penting yang membentuk kedewasaannya. Dari seorang pelajar muda yang keras kepala, ia berkembang menjadi pribadi yang sadar bahwa pendidikan bukan hanya alat mobilitas sosial, tetapi juga sarana untuk mengangkat martabat bangsa. Perubahan itu nantinya menjadikan dirinya berbeda dari banyak lulusan sekolah kolonial lain yang memilih nyaman dalam sistem.
Pendidikan Awal dan Jalan Menuju STOVIA
Salah satu fase paling menentukan dalam biografi Dokter Sutomo adalah saat ia masuk STOVIA. Sumber resmi Museum Kebangkitan Nasional mencatat bahwa ia diterima secara resmi sebagai pelajar STOVIA pada 10 Januari 1903. Sekolah ini bukan sekadar lembaga pendidikan dokter bumiputra. STOVIA adalah ruang pertemuan gagasan, tempat lahirnya solidaritas antarpelajar, dan kemudian menjadi salah satu pusat penting munculnya kesadaran kebangsaan modern.
Gedung STOVIA sendiri diakui secara resmi oleh Museum Kebangkitan Nasional sebagai tempat yang menjadi saksi lahirnya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908. Fakta ini sangat penting karena menjadikan pengalaman pendidikan Soetomo tidak bisa dipisahkan dari ruang sejarah yang lebih besar. Di sana ia tidak hanya belajar ilmu kedokteran, tetapi juga belajar berorganisasi, berdebat, dan merumuskan cita-cita kemajuan bumiputra. Dengan demikian, STOVIA dalam hidup Soetomo adalah sekolah, asrama, laboratorium gagasan, sekaligus rahim pergerakan. (Nasional Museum Registry)
Dokter Sutomo di STOVIA dan Kelahiran Jiwa Kepemimpinan
Kehidupan Soetomo di STOVIA membentuknya menjadi tokoh yang berani mengambil inisiatif. Dalam catatan Museum Kebangkitan Nasional, pada masa awal ia sempat mengalami kesulitan beradaptasi dengan kehidupan asrama dan disiplin sekolah. Akan tetapi, ia kemudian tumbuh menjadi pelajar yang aktif, berpengaruh di kalangan teman-temannya, dan cukup kuat secara karakter hingga mampu memimpin gerakan dari dalam kampus. Transformasi inilah yang menjadikan STOVIA bukan hanya tempat belajar profesi, melainkan tempat pembentukan pemimpin.
Ketika ancaman dari pihak sekolah muncul karena aktivitas organisasinya, Soetomo tidak surut. Sumber yang sama menunjukkan bahwa ancaman untuk mengeluarkannya dari STOVIA tidak menghentikan langkahnya dalam mengembangkan Boedi Oetomo. Sikap ini memperlihatkan kualitas utama Soetomo sejak muda: ia berani menanggung risiko pribadi demi tujuan yang lebih besar. Di titik inilah biografi Dokter Sutomo menunjukkan corak seorang pemimpin yang tidak hanya cerdas, tetapi juga tahan menghadapi tekanan.
Pertemuan dengan dr. Wahidin dan Lahirnya Gagasan Kebangkitan
Sebelum Boedi Oetomo berdiri, Soetomo mendapat dorongan penting dari gagasan dr. Wahidin Soedirohoesodo. Menurut sumber Museum Kebangkitan Nasional, Wahidin berkeinginan membentuk studie fonds, yaitu dana pendidikan bagi anak-anak bumiputra yang cerdas tetapi kekurangan biaya. Gagasan itu menggugah Soetomo dan kawan-kawannya karena memperlihatkan bahwa kemajuan bangsa hanya dapat dimulai dari pendidikan, solidaritas, dan organisasi yang nyata.
Ajakan Wahidin tidak berhenti sebagai wacana. Soetomo menangkapnya sebagai dorongan untuk membangun organisasi yang lebih luas. Dalam sumber yang sama dijelaskan bahwa ia segera menyampaikan perlunya mendirikan organisasi untuk menunjukkan kepada dunia luar bahwa pemuda dan pelajar bumiputra memiliki kehendak memajukan rakyatnya di segala bidang. Dari titik ini, Soetomo tidak lagi sekadar menjadi pendengar gagasan, melainkan mulai tampil sebagai penggerak utama. Ia mengubah inspirasi menjadi tindakan kolektif.
Pendirian Boedi Oetomo oleh Dokter Sutomo
Puncak dari proses tersebut adalah berdirinya Boedi Oetomo pada Minggu, 20 Mei 1908, di STOVIA. Sumber resmi Museum Kebangkitan Nasional dan Museum Kebangkitan Nasional Kementerian Kebudayaan sama-sama menegaskan bahwa organisasi ini lahir dari prakarsa R. Soetomo dan kawan-kawan, dengan latar inspirasi pemikiran dr. Wahidin. Encyclopaedia Britannica juga mencatat bahwa Budi Utomo didirikan pada 20 Mei 1908 dan tanggal itu kemudian ditetapkan pemerintah Indonesia sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Boedi Oetomo menjadi penting bukan hanya karena berdiri lebih awal, melainkan karena membawa pola baru dalam perjuangan bumiputra. Organisasi ini memadukan pendidikan, kesadaran sosial, kepentingan kebudayaan, dan bentuk organisasi modern. Britannica menyebutnya sebagai organisasi nasionalis Indonesia pertama, sementara sumber Museum Kebangkitan Nasional menunjukkan bahwa dalam kongres awalnya organisasi ini bergerak cepat dan memperoleh dukungan luas. Di tangan Soetomo, kelahiran Boedi Oetomo menjadi penanda bahwa kaum terpelajar bumiputra mulai berbicara dengan bahasa kolektif, bukan lagi dengan suara yang tercerai-berai. (Encyclopedia Britannica)
Perkembangan Awal Boedi Oetomo dan Pengaruhnya
Pertumbuhan Boedi Oetomo berlangsung sangat cepat. Sumber Museum Kebangkitan Nasional menyebut bahwa beberapa bulan setelah didirikan, organisasi ini telah memiliki 40 cabang dengan anggota lebih dari 10.000 orang. Britannica juga mencatat bahwa pada fase awal perkembangannya, organisasi ini telah mengklaim sekitar 40 cabang dengan 10.000 anggota, yang kebanyakan berasal dari kalangan pelajar dan pegawai. Skala pertumbuhan seperti ini menunjukkan bahwa gagasan yang dibawa Soetomo dan rekan-rekannya memang menemukan resonansi luas di tengah masyarakat bumiputra terdidik.
Dari sisi sejarah, pengaruh Boedi Oetomo melampaui jumlah cabangnya. Organisasi ini membuka jalan bagi munculnya organisasi-organisasi modern berikutnya. Museum Kebangkitan Nasional menyebut pendiriannya memberi inspirasi bagi lahirnya organisasi pemuda lain, sementara Britannica menilai Budi Utomo menjadi model penting bagi kelompok nasionalis berikutnya walaupun efektivitas politiknya kemudian menurun. Dengan kata lain, jasa besar Dokter Sutomo bukan hanya mendirikan organisasi, tetapi menyalakan pola berpikir baru tentang persatuan, asosiasi modern, dan martabat bangsa. (Nasional Museum Registry)
Kiprah Dokter Sutomo Setelah Fase Awal Budi Utomo
Setelah masa pendirian Boedi Oetomo, perjalanan Soetomo tidak berhenti pada simbolisme organisasi. Ia terus tumbuh sebagai tokoh yang memperluas medan pengabdian dari dunia kebudayaan dan organisasi menuju dunia sosial-politik yang lebih matang. Sumber Museum Kebangkitan Nasional menunjukkan bahwa Soetomo memikirkan persatuan bangsa sebagai hal yang mutlak, dan pemikiran itu makin menonjol dalam fase-fase perjuangannya kemudian. Ia tidak puas dengan gerak yang semata-mata seremonial; ia menginginkan organisasi yang benar-benar menyentuh kehidupan rakyat.
Di titik ini, biografi Dokter Sutomo menunjukkan kedalaman watak politiknya. Ia bukan tokoh yang menyalakan api besar lalu menghilang. Ia justru terus bergerak dari satu bentuk kerja ke bentuk kerja lain: dari organisasi pemuda, ke kedokteran, ke pendidikan publik, ke klub studi, hingga partai politik. Jejak semacam ini memperlihatkan kesinambungan perjuangan yang amat kuat. Dalam sejarah Indonesia, karakter seperti ini membuat Soetomo menonjol sebagai figur pembangunan kesadaran nasional yang berlapis-lapis.
Studi di Belanda dan Perluasan Wawasan Internasional
Pada November 1919, Soetomo bersama istrinya berangkat ke Belanda dan terdaftar sebagai mahasiswa kedokteran di Universitas Amsterdam. Keterangan ini penting karena menunjukkan bahwa perjalanan intelektual Soetomo tidak berhenti setelah lulus sebagai dokter di Hindia. Ia terus memperdalam ilmu dan memperluas cakrawala berpikirnya. Selama di Amsterdam, ia tetap aktif dalam kegiatan organisasi, bahkan terlibat dalam lingkungan perhimpunan pelajar Indonesia di negeri Belanda.
Pengalaman di Belanda memperkaya pandangan Soetomo tentang bangsa, modernitas, dan bentuk perjuangan. Ia berada di pusat dunia kolonial Eropa, tetapi justru membawa pulang visi yang makin jelas tentang kebutuhan rakyat Indonesia: pendidikan, kesadaran politik, kesejahteraan sosial, dan persatuan yang melampaui kepentingan daerah. Fase ini sangat penting karena memperlihatkan bahwa Soetomo tidak sekadar tokoh lokal Jawa, melainkan seorang nasionalis yang pikirannya berkembang dalam pergaulan internasional namun tetap tertambat pada nasib bumiputra.
Kembali ke Tanah Air: Dokter, Pengajar, dan Penggerak Sosial
Setelah kembali ke Hindia Belanda, Soetomo aktif sebagai dokter dan pengajar. Museum Kebangkitan Nasional mencatat bahwa mulai 31 Juli 1923 ia mendapat tugas untuk memberikan kuliah dua kali seminggu dalam bidang penyakit kulit dan kelamin pada sekolah kedokteran di Surabaya, sambil tetap membuka praktik di rumahnya. Fakta ini penting karena menegaskan bahwa identitas “Dokter Sutomo” bukan semata gelar, melainkan profesi yang benar-benar dijalankan secara serius.
Namun peran medis itu tidak pernah dipisahkannya dari perjuangan sosial. Soetomo melihat kesehatan, pendidikan, dan kemampuan ekonomi rakyat sebagai satu rangkaian masalah yang harus dibenahi bersama. Dari sinilah tampil corak khas perjuangannya: tidak meledak-ledak, tetapi konkret; tidak hanya penuh seruan politik, tetapi juga kerja kelembagaan. Ia sadar bahwa bangsa tidak akan kuat bila masyarakatnya lemah secara kesehatan, keterampilan, dan daya pikir. Itulah sebabnya kiprahnya setelah pulang ke tanah air semakin kaya dan berdimensi luas.
Indonesische Studie Club dan Arah Baru Perjuangan Dokter Sutomo
Pada 1924, Soetomo mendirikan Indonesische Studie Club di Surabaya. Sumber Museum Kebangkitan Nasional menjelaskan bahwa organisasi ini lahir sebagai wadah untuk membahas kepentingan umum, menumbuhkan kesadaran persatuan dan pemahaman politik, serta mengajak kaum terpelajar bumiputra bekerja secara konstruktif melalui pembahasan persoalan nasional dan sosial. Di sini tampak jelas bahwa Soetomo sedang membangun tahap perjuangan yang lebih matang: dari organisasi simbolik menuju forum kaderisasi intelektual dan aksi sosial.
Organisasi ini berkembang jauh melampaui forum diskusi. Dalam sumber yang sama disebutkan bahwa Indonesische Studie Club menyediakan asrama untuk pelajar, rumah bagi pejabat bumiputra di Surabaya, balai latihan kerja untuk perempuan, dan bahkan sekolah keterampilan menenun. Aktivitas itu menunjukkan keluasan visi Soetomo. Ia tidak melihat pergerakan nasional hanya sebagai urusan pidato dan kongres, tetapi sebagai upaya konkret memperbaiki kualitas hidup rakyat. Pengaruhnya pun cepat meluas; pendirian klub studi serupa di kota-kota lain, termasuk yang dipimpin Soekarno di Bandung, menjadi bukti betapa kuat jejak gagasan Dokter Sutomo dalam pembentukan jaringan intelektual nasional.
Dari Studie Club ke Persatuan Bangsa Indonesia
Pada 16 Oktober 1930, Indonesische Studie Club diubah menjadi Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) dan Soetomo memimpinnya langsung. Perubahan ini menandai pergeseran penting dalam perjalanan politiknya. Jika sebelumnya klub studi lebih banyak bergerak pada pembinaan kesadaran dan kerja sosial-ekonomi, maka PBI sudah menunjukkan bentuk partai yang lebih tegas secara politik. Dengan langkah ini, Soetomo memperlihatkan bahwa ia membaca zaman dengan cermat: rakyat tidak cukup hanya disadarkan, tetapi juga perlu dihimpun ke dalam wadah perjuangan nasional yang lebih terarah.
Transformasi menjadi PBI juga memperlihatkan kehati-hatian politik Soetomo. Ia tidak tergesa-gesa mempartaikan gerakannya, tetapi melakukannya setelah organisasi cukup matang. Cara ini mencerminkan watak perjuangannya yang konstruktif dan realistis. Ia ingin membangun kekuatan nasional yang tahan lama, bukan ledakan semangat yang cepat padam. Di sini terlihat lagi kekuatan utama Dokter Sutomo: ia selalu berusaha menjaga keseimbangan antara idealisme kebangsaan dan kebutuhan membangun basis sosial yang nyata.
Dokter Sutomo dan Lahirnya Parindra
Menjelang pertengahan 1930-an, Soetomo memainkan peran sangat penting dalam penyatuan kekuatan organisasi. Sumber Museum Kebangkitan Nasional menyebut bahwa Persatuan Bangsa Indonesia kemudian disatukan dengan Boedi Oetomo menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra). Dalam uraian yang lebih rinci, sumber yang sama mencatat bahwa pada kongres fusi di Solo pada Desember 1936, partai baru itu dibentuk dengan Dr. Soetomo sebagai ketua dan mengusung tujuan “Indonesia Mulia”.
Parindra penting dalam biografi Dokter Sutomo karena menandai puncak dari cita-citanya mengenai persatuan. Ia bukan hanya mendirikan organisasi baru, tetapi berhasil menghubungkan warisan Boedi Oetomo dengan tenaga politik PBI ke dalam satu barisan. Museum Kebangkitan Nasional bahkan mencatat bahwa Soetomo melihat penggabungan itu sebagai prestasi besar dalam karier politik dan kebudayaannya. Dengan demikian, Parindra bukan sekadar partai; ia adalah bentuk paling matang dari visi Soetomo tentang nasionalisme yang berakar pada organisasi, etika, dan kerja sosial.
Corak Pemikiran Dokter Sutomo
Dokter Sutomo dikenal sebagai tokoh yang menempatkan persatuan sebagai asas utama. Dalam pengantar buku terbitan Museum Kebangkitan Nasional ditegaskan bahwa Soetomo memiliki pemikiran jauh ke depan dan memandang persatuan seluruh komponen bangsa sebagai unsur mutlak yang harus dimiliki bangsa Indonesia. Bagi Soetomo, bangsa yang tercerai-berai akan mudah rapuh, sedangkan bangsa yang bersatu akan lebih mampu menghadapi tekanan dan menyelesaikan persoalan aktual.
Corak pemikiran ini menjelaskan mengapa jalur perjuangannya selalu menekankan organisasi dan penguatan masyarakat. Ia tidak terkenal sebagai tokoh retorika radikal semata, melainkan sebagai perancang kelembagaan kebangsaan. Itulah sebabnya kiprahnya menyentuh banyak bidang: pendidikan, kesehatan, ekonomi rakyat, klub studi, partai, hingga pengaderan intelektual. Pemikirannya memperlihatkan bahwa kemerdekaan harus disiapkan dengan kualitas manusia dan ketahanan sosial yang cukup. Dalam konteks sejarah Indonesia, pandangan ini membuat Dokter Sutomo tampil sebagai nasionalis yang berwawasan sistemik.
Wafatnya Dokter Sutomo dan Penghormatan Negara
Dokter Sutomo wafat pada 30 Mei 1938. Museum Kebangkitan Nasional mencatat bahwa ia meninggal setelah mengalami gangguan kesehatan kronis dan wafat pada sore hari setelah dirawat di rumah sakit. Berita kepergiannya menimbulkan reaksi luas dari berbagai kalangan, menandakan betapa besar pengaruhnya dalam kehidupan sosial-politik pada masa itu. Sosoknya telah menjelma menjadi pemimpin yang tidak hanya dihormati di ruang organisasi, tetapi juga dicintai masyarakat yang melihatnya sebagai tokoh pengabdian.
Penghormatan negara atas jasanya datang kemudian. Sumber Museum Kebangkitan Nasional menyebut bahwa pada 1961 Soetomo dikukuhkan sebagai pahlawan pergerakan nasional. Pengakuan ini mempertegas posisi Dokter Sutomo dalam sejarah Indonesia: ia bukan hanya tokoh pendiri organisasi, tetapi salah satu arsitek awal kebangkitan nasional yang berhasil menghubungkan pendidikan, sosial, dan politik dalam satu napas perjuangan.
Warisan Dokter Sutomo bagi Indonesia
Warisan terbesar Dokter Sutomo terletak pada cara ia memaknai perjuangan. Ia mengajarkan bahwa kebangkitan bangsa tidak lahir dari kemarahan sesaat, melainkan dari pembentukan organisasi, peningkatan kualitas manusia, dan konsistensi membangun persatuan. Dari Boedi Oetomo, Indonesische Studie Club, PBI, hingga Parindra, kita melihat pola yang sama: Soetomo selalu berusaha menciptakan wadah kolektif yang membuat rakyat bergerak lebih teratur, lebih sadar, dan lebih siap memasuki masa depan.
Dalam pembacaan sejarah yang lebih luas, Dokter Sutomo juga mewariskan teladan tentang nasionalisme yang beradab. Ia adalah dokter yang tetap mengobati, pengajar yang tetap membina, organisator yang tetap mempersatukan, dan pemimpin yang tetap berpijak pada kesejahteraan rakyat. Karena itu, biografi Dokter Sutomo selalu relevan dibaca hari ini. Sosoknya mengingatkan bahwa kemajuan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari etos kerja, integritas, kecerdasan sosial, dan keberanian membangun persatuan di atas kepentingan golongan.
Penutup
Biografi Dokter Sutomo memperlihatkan jejak hidup seorang tokoh besar yang tumbuh dari desa di Jawa Timur, ditempa oleh pendidikan modern di STOVIA, lalu menjadi motor lahirnya Boedi Oetomo dan perkembangan nasionalisme Indonesia. Dari Soebroto kecil di Ngepeh hingga Dr. Soetomo yang memimpin Parindra, seluruh rangkaian hidupnya menunjukkan arah yang sama: memajukan bumiputra, memperkuat persatuan, dan menyiapkan Indonesia yang lebih mulia.
Bagi kami, kekuatan utama Dokter Sutomo terletak pada kemampuannya menghubungkan gagasan dan tindakan. Ia tidak berhenti pada seruan, tetapi membangun lembaga. Ia tidak puas pada simbol, tetapi mengupayakan perubahan sosial yang nyata. Itulah sebabnya namanya tetap menempati ruang penting dalam sejarah kebangkitan nasional. Dokter Sutomo bukan sekadar tokoh masa lalu, melainkan salah satu wajah awal Indonesia yang sedang belajar berdiri sebagai bangsa.
Sumber Artikel
Museum Kebangkitan Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan — Dokter Soetomo. Sumber utama untuk data kelahiran, nama asli Soebroto, pendidikan STOVIA, Budi Oetomo, Indonesische Studie Club, PBI, Parindra, wafat, dan pengukuhan sebagai pahlawan pergerakan nasional.
Museum Kebangkitan Nasional — Profil Museum Kebangkitan Nasional. Dipakai untuk penguatan fakta bahwa Gedung STOVIA menjadi saksi lahirnya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 atas prakarsa R. Soetomo dan kawan-kawan, terinspirasi pemikiran dr. Wahidin. (Nasional Museum Registry)
Encyclopaedia Britannica — Budi Utomo. Digunakan untuk penguatan konteks bahwa Budi Utomo merupakan organisasi nasionalis Indonesia pertama, didirikan 20 Mei 1908, dan tanggal itu diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. (Encyclopedia Britannica)

0 Komentar